Subang–Musim kemarau basah di Ciasem Hilir, Subang, menyebabkan 250 hektar sawah mengalami kekeringan. Tanaman padi yang berusia 40 hari tersebut, terancam gagal tanam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Subang dan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, menerjunkan mobil pompa untuk menanggulangi dampak kekeringan.
Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Subang, Enda, pihaknya telah melakukan peninjauan ke lokasi terdampak.
“Ciasem Hilir sudah mengalami kekeringan sawah 250 hektar yang sudah ditanam padi 40 harian. Sekarang sudah proses dipasang (mobil pompa),” kata Enda, Kamis (31/07/25) di kantornya.
Selain itu, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau basah berpotensi terjadi akhir Agustus.
Pihaknya telah menyusun surat edaran untuk mencegah meluasnya dampak kekeringan, cuaca ekstrim dan potensi kebakaran hutan lahan (Karhutla) di Subang.
“Tinggal nunggu tandatangan Bupati Subang,” lanjutnya.
Tak hanya kekeringan, cuaca ekstrim juga berdampak pada krisis air bersih di wilayah selatan Subang. Seperti di Curugrendeng Jalancagak, Kasomalang Wetan, dan Cirangkong Cijambe.
Di wilayah tersebut, BPBD Subang telah melakukan pengeboran sumber air yang dibiayai dari BNPB.
“Anehnya, kekeringan itu di musim kemarau yang kekeringan itu antara di selatan dan pantura (Subang). Daerah selatan dikira banyak sumber air, di wilayah tertentu mengalami krisis air,” ujar Enda.
“Di pantura sama, selain krisis air bersih, irigasi kekeringan,” lanjutnya.
BNPB Subang juga telah menyiagakan mobil tanki air dan berkolaborasi dengan Perumda Tirta Rangga, PMI Subang, Dinsos Subang, untuk membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih.
“Kita suplai air, jika nanti masyarakat membutuhkan air bersih,” pungkasnya.