Subang–Sejak pukul 19.00 WIB, ibadah Misa Malam Natal berlangsung. Dentang lonceng gereja bergema mengiringi syahdu doa 1200 jemaat. Menandai dimulainya rangkaian Misa Malam Natal di Gereja Kristus Sang Penabur, di Cikalapa, Subang, Rabu (24/12/25).
Di saat bersamaan, Adzan Isya berkumandang dari masjid terdekat. Menandai ibadah sholat Isya bagi umat Islam. Momen hangat kerukunan umat beragama di kota Nanas ini.
Perayaan Natal tahun ini bertema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”. Menurut Romo Fabianus Muktiyarso, tema ini merupakan tema bersama yang disepakati Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).
“Pertolongan Allah ini sampai pada keluarga,” kata Romo yang akrab disapa Romo Abi ini.
Menurutnya, pesan utama tema tersebut menegaskan kualitas keluarga mempengaruhi kualitas kehidupan umat beragama. Keluarga memiliki fungsi penting. Sekaligus menegaskan keprihatinan maraknya kekerasan dan permasalahan di lingkungan keluarga.
“Saat ini, kita melihat sering terjadi KDRT, kekerasan di keluarga. Termasuk perceraian. Kita prihatin. Ini menyerukan bahwa keluarga (harus) menjadi gereja ‘kecil’,” seru Romo Abi.
Selain pesan di atas, Gereja Katolik terbesar di Subang ini dipenuhi ornamen budaya Sunda. Terlihat para Jemaat memakai kebaya dan pangsi. Doa Misa pun memakai bahasa Sunda.
Di Gereja ini, setiap tahun berganti tema. Tahun kemarin, bertema budaya Jawa. Pesan utamanya jelas, menegaskan keberagaman jemaat Katolik.
Keberagaman bukan halangan untuk bersatu dalam iman Katolik. Seperti tergambar dalam diorama kelahiran Yesus di bawah saung Sunda yang filosofis.
“Kebetulan di gereja kami terdiri dari beberapa suku. Ada suku jawa, cina, sunda, flores, batak,” ujarnya.
Hal ini meneguhkan komitmen persatuan di gereja sebagai pondasi kerukunan beragama, berbangsa dan bernegara.
“Supaya kita, walaupun berbeda suku, walaupun kita berbeda asal, tapi kita tetap dalam satu kesatuan gereja kita,” pungkasnya.

