CIREBON — Lonjakan penumpang saat arus mudik Lebaran tak hanya berdampak pada kepadatan transportasi, tetapi juga pada meningkatnya volume sampah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Wakil Menteri Lingkungan Hidup bersama jajaran pemerintah daerah dan PT KAI meninjau langsung pengelolaan sampah di kawasan stasiun.
Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, di Stasiun Cirebon pada Sabtu (14/3/2026).
Pertemuan tersebut difokuskan pada penguatan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN untuk mengelola lonjakan sampah selama masa angkutan Lebaran 2026, sekaligus memastikan kesiapan fasilitas kebersihan di area publik yang dipadati pemudik.
Farida menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan PT KAI yang selama ini telah membantu pengelolaan sampah di kawasan stasiun, termasuk melalui sistem pemilahan di fasilitas TPS 3R.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar sampah dari aktivitas transportasi tidak sepenuhnya menjadi beban tempat pembuangan akhir milik pemerintah kota.
“Kolaborasi ini sangat membantu kami, terutama dalam pengelolaan dan pemilahan sampah. Harapannya beban sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang secara signifikan,” ujar Farida.
Pemerintah Kota Cirebon sendiri tengah memperkuat sistem pengolahan sampah dengan meningkatkan standar pengelolaan, termasuk rencana pengembangan sistem sanitary landfill pada tahun anggaran 2026.
Selain penguatan sistem, Farida juga mengingatkan para pemudik untuk disiplin membuang sampah sesuai jenisnya. Ia menilai fasilitas tempat sampah terpilah yang sudah tersedia di stasiun hanya akan efektif jika didukung kesadaran masyarakat.
Sementara itu, Diaz Hendropriyono menilai pengelolaan sampah di stasiun harus dilakukan sejak dari sumbernya. Menurutnya, lonjakan penumpang selama mudik berpotensi memicu peningkatan volume sampah yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik.
“Kita ingin memastikan pengelolaan sampah di stasiun tidak menjadi beban tambahan bagi TPA di daerah,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi nilai ekonomi dari sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual. Karena itu, fasilitas pemilahan sampah di stasiun diharapkan dapat terhubung dengan jaringan bank sampah di Kota Cirebon.
Dengan skema tersebut, sampah bernilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat, sementara residu yang tidak dapat diolah baru dikirim ke tempat pembuangan akhir.
Di sisi lain, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menegaskan pihaknya berkomitmen menjadikan kebersihan sebagai bagian penting dari layanan kepada penumpang.
Menghadapi potensi lonjakan hingga sekitar 400 ribu penumpang selama musim mudik Lebaran, KAI mendorong Stasiun Cirebon menjadi salah satu percontohan nasional dalam pengelolaan sampah di fasilitas transportasi publik.
“Ini menjadi tantangan bagi kami untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang ideal sehingga bisa menjadi contoh bagi fasilitas publik lainnya,” ujarnya.
Sebagai bagian dari inisiatif ramah lingkungan, KAI juga menyediakan fasilitas water dispenser gratis di stasiun untuk mendorong penumpang membawa botol minum sendiri.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai selama masa perjalanan mudik Lebaran. (clue)

