SUBANG- Di pelosok selatan Subang, diapit hamparan hijau yang membentang, tersembunyi sebuah desa bernama Kasomalang Kulon. Dulunya, tempat ini hanyalah nama pada peta administrasi kolonial Belanda, bekas pusat kendali perkebunan yang dijalankan oleh sinder dengan tangan besi.
Desa ini pernah hidup dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu, namun kini, Kasomalang Kulon menolak untuk hanya dikenang sebagai artefak. Mereka memutuskan untuk bangkit, mengubah narasi sejarahnya menjadi sebuah babak baru pariwisata yang memikat.
Perjalanan transformasi ini secara resmi dimulai pada 2019, ketika desa ini ditetapkan sebagai salah satu dari 16 desa wisata di kawasan Cupunagara. Momen peresmian Sumber Mata Air Cimutan oleh Wakil Bupati Subang menjadi simbol, seolah membuka pintu gerbang bagi dunia untuk melihat potensi yang selama ini tersembunyi.
Namun, Kasomalang Kulon memilih jalan yang berbeda dari desa wisata kebanyakan. Mereka tidak hanya menjual udara sejuk atau pemandangan alam. Di tangan Kepala Desa H. Amir dan warganya, jejak kolonial Belanda justru dijadikan daya tarik utama yang hidup dan berdenyut.
“Daya tarik pertama kami adalah cagar peninggalan Belanda,” tegas Amir. “Ini bukan sekadar bangunan mati, tapi ruang yang masih berdenyut dengan aktivitas warga.”
Ambil contoh Gedung Sinder. Bangunan yang dulunya kaku dan penuh kuasa ini kini telah melunak, menjelma menjadi ruang kreatif yang hangat. Di sana, komunitas seni bertemu, UMKM lokal memamerkan karya, dan kegiatan sosial menjadi denyut nadi baru. Tak jauh dari sana, bekas pabrik teh P&T Land berdiri membisu, namun kisahnya terasa hidup, siap ditelisik oleh setiap pengunjung yang ingin menelusuri industri perkebunan masa lalu.
Yang paling menarik adalah kisah tentang Nanas. Siapa sangka, buah yang kini menjadi identitas Subang sebagai “Kota Nanas” itu ternyata merupakan warisan tak terduga.
“Nanas justru warisan Belanda yang dulu hanya ditanam sebagai pagar,” ungkap Amir, menyoroti ironi sejarah yang manis: pagar pembatas masa lalu kini menjadi komoditas unggulan yang menjanjikan kemakmuran.
Tak hanya sejarah, Kasomalang Kulon juga tengah merintis masa depan alamnya. Sebuah curug (air terjun) perawan sedang dipersiapkan, namun dengan filosofi pembangunan yang berkelanjutan, menolak kerusakan ekologi demi kunjungan sesaat.
Visi mereka sangat ambisius. Dengan mengacu pada estetika Lembur Pakuan, mereka membangun Lapang Gelora Sauyunan sebagai pusat event budaya, yang suatu hari nanti ditargetkan berfasilitas internasional. Konsep besarnya adalah “Subang Smartpolitan”: sebuah pembangunan modern yang dikemas secara elegan, seolah berada di kota, padahal sepenuhnya dijalankan di desa. Produk lokal sederhana seperti keripik dan singkong akan didandani dengan kemasan modern untuk bersaing di pasar yang lebih luas.
Kunci dari semua ini adalah partisipasi warga. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) mengelola destinasi, dan dalam menyambut kunjungan besar dosen dari seluruh Indonesia tahun depan, lebih dari 250 rumah warga telah disiapkan sebagai homestay.
“Dengan adanya ini, ekonomi masyarakat bisa meningkat,” harap Amir.
Namun, ambisi desa ini harus berhadapan dengan realita anggaran. Dana desa tahun depan terpental, sebagian besar dialokasikan untuk program prioritas seperti pengentasan kemiskinan dan stunting.
“Dana desa tahun depan sudah dipotong dan hanya tersisa 47 persen. Itu tidak akan cukup,” ujar Amir dengan nada prihatin.
Meskipun tantangan dana menghadang, Kasomalang Kulon terus melangkah maju. Mereka telah membuktikan bahwa desa wisata unggulan bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang memaksimalkan setiap potensi yang ada, mengubah jejak kolonial yang sunyi menjadi pusat kegiatan yang riuh, dan menjahit kembali masa lalu dengan masa depan melalui semangat gotong royong warganya. (clue)

