JAKARTA – Suasana duka menyelimuti TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Jumat pagi (29/8). Ratusan orang memadati area pemakaman untuk mengantarkan kepergian Affan Kurniawan (27), pengemudi ojek online yang tewas usai dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat pengamanan aksi demonstrasi sehari sebelumnya.
Tangis keluarga pecah ketika jenazah Affan diturunkan dari mobil ambulans. Ibunda korban bahkan sempat pingsan, sementara ayahnya, Zulkifli, tak kuasa menahan air mata.
Dengan suara bergetar, ia menyampaikan harapannya agar peristiwa ini tak berhenti hanya dengan permintaan maaf.
“Saya hanya ingin keadilan. Mobil Brimob itu bukan kendaraan biasa, itu lambang negara. Tapi mengapa bisa melindas anak saya? Tolong diusut tuntas,” ujarnya lirih.
Rekan-rekan sesama ojol hadir dengan mengenakan jaket berwarna hijau-hitam. Mereka bergantian membantu mengangkat keranda, menunjukkan solidaritas sekaligus rasa kehilangan.
Kepolisian Akan Bertanggungjawab
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri hadir di rumah sakit dan rumah duka. Ia memastikan pihak kepolisian bertanggung jawab penuh atas kejadian ini.
“Kami menanggung seluruh biaya rumah sakit, pemakaman, hingga tahlilan. Keluarga Affan bukan hanya korban, mereka adalah saudara kami,” ucap Asep.
Meski demikian, publik tetap menuntut proses hukum berjalan transparan. Pasalnya, menurut data resmi, ada tujuh anggota Brimob yang berada di dalam rantis saat kejadian. Mereka kini telah di amankan dan di periksa oleh Propam Polri, dengan pengawasan langsung dari Mabes Polri dan Kompolnas.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelumnya juga menyampaikan permintaan maaf terbuka dan menegaskan akan ada sanksi tegas terhadap siapa pun yang terbukti bersalah.
Dari pihak komunitas ojol, Arif Hidayat, salah satu perwakilan, menyatakan mereka akan terus mengawal kasus ini.
“Kami di jalan setiap hari untuk keluarga, tapi siapa yang melindungi kami? Kami minta proses hukum tanpa intervensi. Jangan sampai kasus ini hilang begitu saja,” tegasnya.
Affan kini telah dimakamkan, namun kepergiannya menyisakan luka dan pertanyaan besar: sejauh mana negara hadir untuk melindungi warganya? Prosesi yang penuh doa dan isak tangis itu berubah menjadi simbol tuntutan keadilan yang masih bergema di tengah masyarakat. (clue)