SUBANG — Hari-hari setelah penggusuran lapak pedagang di kawasan Ciater, Kabupaten Subang, berubah menjadi masa penuh kecemasan bagi sebuah keluarga yang tinggal di Palasari 2, RT 13. Rumah yang mereka huni perlahan menunjukkan retakan panjang pada dinding, membuat rasa aman di dalam rumah itu kian memudar.
“Sejak penggusuran itu, rumah kami mulai retak. Awalnya kecil, lama-lama makin parah sampai rumah tak layak dihuni,” ujar Jajat warga terdampak, Rabu (17/12/2025).
Menurut warga, aktivitas pembongkaran dan getaran di sekitar permukiman diduga kuat memicu kerusakan tersebut. Retakan terus melebar dari hari ke hari hingga membahayakan keselamatan penghuni rumah. Kekhawatiran itu mendorong keluarga melapor ke aparat desa setempat.
“Kami sudah lapor ke desa. Datang, difoto-foto, didata, tapi setelah itu tidak ada tindak lanjut apa pun,” tuturnya.
Merasa tidak mendapatkan kepastian, warga kemudian menyampaikan keluhannya langsung kepada Bupati Subang, Kang Rey, melalui pesan pribadi di media sosial Instagram pada 1 Juli 2025. Pihak terkait sempat membalas pesan tersebut, namun belum menindaklanjutinya dengan penanganan konkret.
“Saya sempat DM Kang Rey lewat Instagram. Dibalas, tapi cuma disuruh nunggu. Mungkin ngantri dan DM-nya ketumpuk sama aduan yang lain. Sampai kejadian tembok runtuh, belum ada penanganan,” ungkapnya.
Situasi memburuk ketika sebagian tembok rumah runtuh saat istri pemilik rumah tengah menunaikan salat.
“Waktu itu istri saya lagi salat di rumah. Tiba-tiba tembok roboh dan menimpa dia. Alhamdulillah selamat, tapi traumanya besar,” ucap warga.
Usai Laporan Warga, KDM Salurkan Bantuan Perbaikan Rumah

Pasca-kejadian tersebut, keluarga memilih tidak lagi menempati rumah yang kondisinya rapuh dan melaporkan peristiwa itu kepada KDM. Pihak terkait merespons cepat dan menyalurkan bantuan yang langsung korban rasakan manfaatnya.
“Setelah keluarga lapor ke KDM, alhamdulillah langsung ada respons dan bantuan. Baru setelah itu kami merasa diperhatikan,” Ujarnya.
KDM membantu memperkuat dan menambal bagian tembok yang sebelumnya retak dan roboh.
Meski perbaikan belum rampung, keluarga menyebut rumah kini jauh lebih aman dan perlahan kembali layak huni.
Peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa dampak penggusuran tidak hanya berhenti pada hilangnya mata pencaharian, tetapi juga menyentuh keselamatan warga.
Penertiban kawasan semestinya berjalan beriringan dengan tanggung jawab perlindungan terhadap masyarakat terdampak, agar proses pembangunan tidak meninggalkan luka berkepanjangan. (clue)

