Jakarta – Lebaran Idul Fitri 2025 diwarnai dengan berbagai tren media sosial, salah satunya adalah tren Joget Bagi-Bagi THR. Tradisi tahunan memberi tunjangan hari raya (THR) kepada sanak saudara kini terkemas lebih kreatif oleh generasi muda. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tren ini menuai kontroversi lantaran dianggap menyerupai tarian dari budaya Yahudi.
Mengutip dari Liputan 6, fenomena ini menjadi viral setelah banyak video yang menunjukkan orang-orang membagikan THR sembari berjoget tersebar di media sosial. Beberapa warganet bahkan menyebut gaya tarian tersebut mirip dengan gerakan dalam Tarian Hora, tarian tradisional Yahudi.
Mengutip dari akun Instagram pendakwah Ustadz Abu Bakar Al Akhdhory, ia menyoroti tren tersebut sebagai sesuatu yang perlu di waspadai.
“Joget-joget untuk THR ternyata tarian yang biasa di lakukan Yahoodi! (Kalaupun bukan khas mereka, namun musik dan joget-jogetnya tetap mungkar),” tulisnya, di akun @abubakar_alakhdhory, Jumat (4/4/2025).
Ia juga mengingatkan agar umat Muslim tidak ikut-ikutan tren viral yang belum jelas asal-usulnya.
“Oknum masyarakat kita ini sering latah dengan yang viral. Kalau dalam kebaikan sih ok, tapi dalam hal-hal kayak gini? Velocity lah, joget THR lah, dan lain-lain,” tambahnya.
Mirip Hora, Tarian yang Melambangkan Sukacita dan Solidaritas
Tarian tersebut memiliki kemiripan dengan Tarian Hora, tarian tradisional Yahudi yang melambangkan sukacita dan solidaritas.
Tarian ini sering ada di acara pernikahan Yahudi, di mana pengantin akan di angkat di atas kursi sementara tamu undangan menari melingkar di sekeliling mereka. Gerakannya terdiri dari langkah samping dan lompatan ringan, diiringi lagu seperti “Hava Nagila”.
Meski begitu, jurnalis Iqbal Himawan menyebutkan bahwa video tarian serupa yang viral pertama kali di unggah pada 6 Februari 2014 dan berasal dari pernikahan Chassidic di Israel. Namun, ia juga menjelaskan bahwa gerakan serupa ada dalam berbagai budaya lain.
“Langkah yang dilakukan disebut Bunny Hop, yang berasal dari Balboa High School, San Francisco, sekitar tahun 1952,” tulis Iqbal dalam unggahannya di Instagram @iqbalhimawan_.
Ia juga menyebut ada versi lain dari tarian serupa seperti Jenkka dari Finlandia dan tarian rakyat dari Romania dan Albania.
Kontroversi makin memanas setelah akun TikTok @sampit.update mengklaim bahwa musik dan gerakan dalam tren Joget THR berasal dari ritual budaya Yahudi. Influencer Bunda Corla, yang kini bermukim di Jerman juga membantah hal ini.
“Biar tidak keliru yang lagi di ikutin trending bagi-bagi THR, ini aslinya Joget dari Negara FINLANDIA, bukan dari Negara manapun Sekalipun Yahudi, Turki, Mesir atau nenek moyang kau paham?” tulisnya melalui akun Instagram @corla_2.
Bunda Corla menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak memiliki kaitan dengan budaya, tradisi, atau agama apa pun.
“Ini Joget ala-ala happy time saat pesta remaja tahun 1960. Bukan ritual cari tumbal,” imbuhnya.
Kemiripan dengan Penguin Dance dari Albania
Beberapa netizen juga mengaitkan gerakan ini dengan “Penguin Dance” yang populer di Albania.
“Saya sudah lama pakai gerakan ini buat icebreaking, instrumen dan gerakannya saya Penguin Dance Albania,” tulis salah satu warganet di kolom komentar akun yang sama.
Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi atau penelitian komprehensif yang menjelaskan asal-usul pasti dari gerakan joget yang kini populer sebagai Joget THR di Indonesia. Namun satu hal yang pasti, percampuran budaya dalam seni gerak seperti tarian memang bukan hal baru. Tarian itu seringkali terjadi lintas negara dan generasi.(clue)
Baca juga : https://cluetoday.com/terseret-isu-perselingkuhan-klarifikasi-ridwan-kamil-justru-tambah-bingung-netizen/
Follow kami : https://www.instagram.com/cluetoday_?igsh=MWU2aHg0a3g2dHlvdg==