CIREBON — Upaya mendorong perempuan lebih melek finansial kembali mengemuka di Kota Cirebon. Dalam sebuah kegiatan edukasi keuangan yang digelar Majelis Taklim Asy Syifa di Bandar Djakarta, Kamis (24/4/2026), isu kemandirian ekonomi perempuan dibahas dalam konteks yang lebih kekinian—bukan sekadar emansipasi, tetapi juga soal ketahanan keluarga.
Acara yang bertepatan dengan suasana peringatan Hari Kartini itu menyoroti bagaimana perempuan kini menghadapi tantangan yang berbeda. Jika dulu perjuangan berkutat pada akses pendidikan dan kesetaraan, hari ini perempuan juga dituntut cakap mengelola keuangan di tengah kompleksitas ekonomi modern.
Siti Farida Rosmawati yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai literasi keuangan menjadi salah satu bentuk nyata emansipasi masa kini. Ia menekankan bahwa peran perempuan, terutama ibu rumah tangga, sangat strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Menurutnya, kemampuan mengatur pendapatan, menabung, hingga memahami investasi bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan dasar. “Ketika perempuan memahami keuangan, dampaknya bukan hanya ke dirinya sendiri, tapi ke seluruh keluarga,” ujarnya.
Isu yang diangkat juga tidak berhenti pada pengelolaan uang sehari-hari. Fenomena konsumtif, maraknya investasi ilegal, hingga pinjaman online yang merugikan menjadi perhatian serius. Dalam konteks ini, literasi keuangan dilihat sebagai benteng awal perlindungan.
Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui perwakilan Cirebon turut menggarisbawahi hal serupa. Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menyebut perempuan sebagai aktor kunci dalam membangun kesadaran finansial di tingkat keluarga.
Ia mengungkapkan, sepanjang April saja, OJK Cirebon menerima ratusan pengaduan dan konsultasi masyarakat—dengan mayoritas berasal dari perempuan. Kondisi ini menjadi indikator bahwa kebutuhan edukasi masih tinggi, terutama terkait pengelolaan keuangan dan kewaspadaan terhadap praktik ilegal.
“Semakin paham seseorang terhadap keuangan, semakin kecil risiko yang dihadapi,” kata Agus.
Kegiatan seperti ini dinilai efektif karena menyasar komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti majelis taklim. Pendekatan berbasis komunitas dianggap lebih mudah menjangkau dan membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan keuangan.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah daerah, OJK, dan komunitas perempuan disebut menjadi kunci agar edukasi tidak berhenti di ruang seminar, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah perubahan zaman, semangat Kartini tampaknya terus bertransformasi—dari perjuangan hak, menjadi kemampuan bertahan dan berkembang, termasuk dalam urusan finansial. (clue)

